7 Prompt ChatGPT Perbaiki Kalimat Skripsi Sesuai PUEBI Anti Revisi

Halo rekan-rekan mahasiswa pejuang toga, apa kabar mental dan naskahnya hari ini? Semoga revisiannya semakin menipis dan semangatnya tetap menebal, ya.
Sebagai dosen yang sudah bertahun-tahun memeriksa naskah skripsi, jujur saja, ada satu hal yang sering bikin saya (dan dosen lain) “sakit mata” selain data yang tidak valid. Apa itu? Bahasa yang berantakan. Idenya brilian, datanya lengkap, tapi cara penyampaiannya seperti status media sosial: tidak ada subjek, predikatnya lari-lari, dan penggunaan “di” yang dipisah atau disambung masih sering tertukar. Padahal, dalam dunia Penelitian ilmiah, bahasa adalah kendaraan utama logika.
Nah, kalau dulu mahasiswa harus buka buku PUEBI (sekarang kembali ke istilah EYD V) setebal bantal, sekarang kita bisa memanfaatkan teknologi. Kita sudah sering membahas cara menggunakan ChatGPT 4 untuk skripsi, jurnal, dan penelitian akademis secara umum. Tapi kali ini, saya akan bagikan “senjata rahasia” spesifik berupa Prompt ChatGPT Perbaiki Kalimat Skripsi Sesuai PUEBI. Tujuannya simpel: biar naskah kalian licin, baku, dan dosen pembimbing tidak punya alasan untuk mencoret masalah tata bahasa lagi.
Kenapa ChatGPT Biasa Sering Gagal Paham PUEBI?
Mungkin Anda pernah mencoba mengetik: “Tolong perbaiki kalimat ini.” Hasilnya? Terkadang malah jadi terlalu puitis atau bahasanya jadi aneh seperti terjemahan Google Translate tahun 2010. Itu karena AI perlu konteks.
Bahasa Indonesia baku itu unik. Kita punya aturan kalimat efektif yang ketat (Subjek + Predikat + Objek + Keterangan). Jika Anda tidak memberikan instruksi (prompt) yang spesifik bahwa Anda sedang menulis karya ilmiah, AI akan menganggap Anda sedang menulis blog santai. Oleh karena itu, prompt yang akan saya bagikan di bawah ini dirancang untuk memosisikan AI sebagai “Editor Bahasa Indonesia Senior”.
Teknik 1: Prompt “Polishing” Kalimat Efektif (Anti Pemborosan Kata)
Penyakit utama mahasiswa adalah “Wordy” atau bertele-tele. Contoh: “Adapun tujuan daripada penelitian ini adalah untuk mengetahui…” (Ini boros!).
Gunakan prompt ini untuk memangkas lemak jahat pada kalimat Anda:
“Bertindaklah sebagai Ahli Bahasa Indonesia Akademik. Saya memiliki paragraf berikut yang terasa bertele-tele dan tidak efektif. Tugas Anda adalah menyuntingnya agar menjadi Kalimat Efektif sesuai kaidah PUEBI/EYD V.
Syarat penyuntingan:
1. Hapus kata-kata mubazir (seperti ‘adapun’, ‘daripada’, ‘maka’).
2. Pastikan struktur Subjek dan Predikat jelas.
3. Ubah kalimat pasif yang membingungkan menjadi kalimat aktif jika perlu.
4. Pertahankan makna aslinya, jangan mengubah data.
Teks: [PASTE PARAGRAF ANDA]”
Teknik ini sangat berguna saat Anda menulis Bab 1, terutama ketika sedang pusing mencari gap penelitian bab 1 skripsi. Gap penelitian harus disampaikan dengan tegas dan lugas, bukan dengan kalimat yang muter-muter.
Teknik 2: Prompt Cek “Di-” Sambung dan Pisah (Preposisi vs Imbuhan)
Ini kesalahan sepele tapi fatal. Dosen killer bisa langsung menutup naskah kalau melihat “di lakukan” (salah) atau “diatas” (salah). AI bisa mendeteksi ini dengan cepat.
Prompt spesifik:
“Saya akan memberikan teks skripsi. Tolong lakukan Proofreading khusus untuk penggunaan kata depan ‘di’, ‘ke’, dan imbuhan ‘di-‘, ‘ke-‘. Koreksi mana yang harus dipisah (keterangan tempat) dan mana yang harus disambung (kata kerja pasif). Berikan daftar koreksinya saja agar saya bisa cek manual.”
Teknik 3: Prompt Mengubah Bahasa Lisan ke Akademik
Seringkali saat buntu, kita menulis seperti kita bicara. Masuklah kata-kata seperti “kayaknya”, “gimana”, “bikin”. Atau struktur kalimat yang terbalik-balik. Ini sering terjadi saat mahasiswa mencoba mentranskrip hasil wawancara.
Jika Anda sedang mengolah data wawancara dan bingung merapikannya, selain membaca panduan tentang bisakah ChatGPT mengkodekan data kualitatif, Anda bisa gunakan prompt ini untuk merapikan kutipan (jika ingin diparafrase):
“Ubah paragraf berikut menjadi gaya bahasa akademis formal. Ganti kata-kata non-baku (bahasa percakapan) dengan padanan kata baku sesuai KBBI. Pastikan nadanya objektif dan ilmiah.
Teks: [PASTE TEKS PERCAKAPAN/LISAN]”
Teknik 4: Prompt Koherensi Antar Paragraf (Flow)
Pernah dikomen dosen: “Paragraf ini tidak nyambung dengan sebelumnya!”? Itu masalah koherensi. Transisi antar paragraf skripsi itu ibarat jembatan, harus mulus.
Gunakan prompt ini:
“Saya memiliki dua paragraf berurutan. Analisis koherensi (keterpaduan) antara Paragraf 1 dan Paragraf 2. Buatkan kalimat transisi atau kata penghubung (konjungsi antarparagraf) yang tepat agar perpindahannya terasa mengalir dan logis.
Paragraf 1: […]
Paragraf 2: […]”
Cek Akun Claude AI (Lebih Cerdas & Natural)
Teknik 5: Standardisasi Istilah Asing
PUEBI mengatur penulisan istilah asing harus dimiringkan (italic) atau diserap ke bahasa Indonesia. ChatGPT bisa membereskan ini dalam hitungan detik.
“Cek teks berikut. Identifikasi kata-kata asing (Bahasa Inggris/Latin). Jika kata tersebut sudah ada serapannya di KBBI (misal: ‘Analysis’ jadi ‘Analisis’, ‘Standard’ jadi ‘Standar’), tolong ubah ke serapan Indonesia. Jika belum ada serapannya, biarkan dalam bahasa Inggris tapi buat formatnya menjadi Italic (miring).”
Ini sangat membantu terutama di Bab 3 Metodologi atau saat Anda sedang menyusun instrumen dan membuat kuesioner skala likert otomatis di mana istilah psikometri sering muncul.
Studi Kasus: Sebelum vs Sesudah (Perhatikan Bedanya)
Mari kita lihat contoh nyata kekuatan Prompt ChatGPT Perbaiki Kalimat Skripsi Sesuai PUEBI:
- Asli (Berantakan): “Penelitian ini dilakukan untuk ngeliat gimana pengaruh harga ke keputusan beli. Data diambil dari kuesioner yang disebar ke 100 orang responden.”
- Hasil AI (Prompt Akademik): “Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh harga terhadap keputusan pembelian. Data diperoleh melalui kuesioner yang didistribusikan kepada 100 responden.”
Lihat bedanya? “Ngeliat” jadi “Menganalisis”, “Gimana” hilang, “Disebar” jadi “Didistribusikan”. Ini level bahasa yang disukai dosen.
Akun Turnitin Harian (Cek Plagiasi Aman & Murah)
Tips Terakhir: Jangan “Copy-Paste” Buta
AI itu alat bantu, bukan joki skripsi. Setelah ChatGPT memberikan saran perbaikan:
- Baca Ulang: Apakah maknanya bergeser? Kadang AI mengubah “Sampel” menjadi “Contoh”, padahal di statistik itu beda makna.
- Cek Konsistensi: Pastikan penyebutan istilah konsisten dari awal sampai akhir.
- Gunakan Rasa: Sebagai penulis, Anda yang punya “rasa” bahasa. Jika saran AI terlalu kaku, luweskan sedikit.
Kesimpulan
Teman-teman mahasiswa, skripsi itu bukan cuma soal seberapa pintar Anda menemukan teori, tapi seberapa baik Anda mengomunikasikan ide tersebut lewat tulisan. Dengan memanfaatkan Prompt ChatGPT Perbaiki Kalimat Skripsi Sesuai PUEBI di atas, Anda menghemat waktu editing berjam-jam.
Gunakan waktu hemat tersebut untuk mendalami materi sidang, bukan pusing mikirin koma dan huruf kapital. Jadikan AI sebagai editor pribadi Anda yang siap sedia 24 jam tanpa mengeluh. Percayalah, dosen pembimbing akan lebih respek melihat naskah yang rapi dan bersih dari kesalahan elementer.
Selamat menyunting, dan semoga bab demi bab segera di-ACC!
Share this content:








