5 Realita Pengalaman Ikut PPG Daring Wajib Tahu Agar Lulus Tepat Waktu
Last Updated on 1 December 2025 by Suryo Hadi Kusumo

Pengalaman ikut PPG daring adalah perjalanan maraton fisik dan mental yang menuntut manajemen waktu tingkat tinggi di tengah kesibukan mengajar. Realitanya bukan sekadar kuliah Zoom santai, melainkan rangkaian tagihan tugas harian (LK), praktik mengajar, dan ujian yang menguras energi.
Banyak guru yang mengira bahwa kuliah Pendidikan Profesi Guru (PPG) secara online itu bisa dijalani dengan santai sambil rebahan atau ditinggal memasak. Wah, itu persepsi yang bisa menjadi bumerang, Sobat! Realitanya jauh berbeda dari bayangan kuliah online pada umumnya. Tidak sedikit teman seangkatan saya yang hampir menyerah di tengah jalan karena syok dengan ritme tugas yang datang bertubi-tubi tanpa jeda.
Nah, agar Anda tidak mengalami kaget budaya atau culture shock saat nanti terpanggil, di artikel ini saya akan blak-blakan menceritakan 5 realita penting dari pengalaman ikut PPG daring yang saya alami sendiri. Anggap saja ini sebagai “bocoran dapur” agar Anda bisa mengatur strategi lulus tepat waktu dan mendapatkan sertifikat pendidik (Serdik) impian. Sebelum masuk ke cerita inti, pastikan Anda juga sudah mengecek kelengkapan dokumen di berkas wajib peserta PPG agar administrasi aman.
1. Kegiatan Harian yang Sangat Padat dan Terstruktur
Poin pertama dalam pengalaman ikut PPG daring adalah jadwal yang tidak kenal ampun. Jika Anda berpikir bisa mengerjakan tugas “nanti saja”, Anda salah besar. Sistem LMS (Learning Management System) sudah dikunci dengan waktu deadline yang ketat, biasanya pukul 23.59 WIB setiap harinya.
Setiap pagi dimulai dengan mengunduh modul dan materi ajar untuk belajar mandiri. Siangnya dilanjutkan dengan sesi sinkronus (tatap muka maya via Zoom/Gmeet) bersama dosen dan guru pamong. Di sini kita dituntut aktif bertanya dan berdiskusi. Sore hingga malam adalah waktu “berdarah-darah” untuk menyelesaikan tagihan tugas harian seperti LK (Lembar Kerja), refleksi, hingga resume modul. Ritme ini berulang setiap hari selama berbulan-bulan.
2. Tiga Fase Kritis yang Menguras Emosi
Berdasarkan perjalanan saya, ada tiga fase dalam PPG yang paling sering membuat peserta merasa burnout. Mengetahui ini sejak awal akan membuat mental Anda lebih baja.
Fase Pendalaman Materi
Ini adalah fase awal yang sering bikin syok. Anda diminta menganalisis masalah pembelajaran di kelas sendiri, mulai dari pedagogik hingga literasi numerasi. Tantangannya adalah setiap hari ada LK baru yang harus disetor. Kuncinya: kerjakan sebisanya dan submit tepat waktu, jangan perfeksionis di awal.
Fase Pengembangan Perangkat
Di sini kreativitas Anda diuji habis-habisan. Anda harus menyusun RPP (Modul Ajar), bahan ajar, media, hingga instrumen penilaian inovatif. Dosen akan merevisi perangkat Anda berkali-kali. Siapkan mental baja untuk menerima kritik karena revisi itu tanda sayang dosen agar kita lulus.
Fase PPL (Praktik Pengalaman Lapangan)
Ini puncaknya. Anda harus praktik mengajar di sekolah asal sambil direkam video. Tantangan teknisnya luar biasa, mulai dari sinyal hilang, memori HP penuh, hingga editing video yang memakan waktu berjam-jam. Banyak peserta begadang bukan karena belajar, tapi karena rendering video.
3. Manajemen Waktu Adalah Kunci Selamat
Dalam pengalaman ikut PPG daring, musuh terbesar kita bukanlah dosen yang galak, melainkan diri sendiri yang suka menunda. Mari kita lihat perbandingan nyata dua tipe mahasiswa di kelas saya dulu.
Tipe pertama adalah Pak Budi, penganut Sistem Kebut Semalam (SKS). Beliau sering menunda mengerjakan LK. Akibatnya, saat server LMS down atau mati lampu menjelang deadline, beliau panik luar biasa. Tugasnya sering telat dan hasilnya asal-asalan.
Tipe kedua adalah Bu Rina, si pencicil. Strateginya sederhana: begitu tugas muncul pagi hari, langsung dicicil di sela jam istirahat sekolah. Targetnya jam 8 malam laptop sudah mati. Hasilnya? Bu Rina menjalani PPG dengan wajah segar dan tugas selalu selesai awal.
Rekomendasi Alat:
Agar suara Anda terdengar jernih saat presentasi atau rekaman PPL (ini poin penilaian penting!), gunakan Mic Clip-on Wireless. Dan untuk membantu merangkum modul tebal dengan cepat, manfaatkan Claude AI.
4. Transformasi Mindset Guru Abad 21
Meskipun melelahkan, ada satu hal positif yang pasti Anda rasakan: transformasi diri. Kita dipaksa untuk melek teknologi. Guru yang tadinya gaptek, mau tidak mau jadi bisa menggunakan Canva, Google Drive, hingga aplikasi editing video. Kita juga jadi terbiasa dengan model pembelajaran inovatif yang berpusat pada siswa, bukan lagi metode ceramah konvensional.
5. Jejaring Teman Seperjuangan Seluruh Indonesia
Realita terakhir yang sangat berharga adalah persaudaraan. Anda akan bertemu dengan guru-guru hebat dari Sabang sampai Merauke dalam satu kelas maya. Grup WhatsApp angkatan akan menjadi tempat curhat, saling berbagi jawaban (diskusi), dan saling menguatkan saat ada yang ingin menyerah. Jejaring ini adalah aset mahal yang tidak bisa dinilai dengan uang.
Penting! Jaga kesehatan mata dan punggung Anda. Duduk 8-10 jam sehari depan laptop bisa sangat menyiksa fisik. Siapkan kursi yang nyaman dan kacamata anti-radiasi jika perlu agar tidak tumbang di tengah jalan.
Jadi Apakah Anda Siap Menghadapi Badai?
Jawabannya harus siap. Pengalaman ikut PPG daring memang berat, tapi hasil manis berupa sertifikat pendidik profesional dan tunjangan sertifikasi sudah menanti di ujung jalan. Rasa lelah itu sementara, tapi gelar Guru Profesional (Gr.) akan melekat selamanya. Persiapkan mental, perangkat, dan dukungan keluarga mulai dari sekarang.
Kira-kira apa ketakutan terbesar Anda jika nanti terpanggil PPG? Takut tugas menumpuk atau takut gaptek teknologi? Coba curhat di kolom komentar, kita saling kuatkan sesama pejuang pendidikan.
Untuk info resmi jadwal dan teknis pelaksanaan terbaru, pantau terus laman resmi PPG Kemdikbud.
Pertanyaan Umum (FAQ)
- Apakah PPG daring bisa disambi kerja lain selain mengajar?
Sangat sulit. Jadwal PPG sangat padat (Full Day). Jika Anda punya pekerjaan sampingan lain, sebaiknya izin cuti sementara agar tidak keteteran dan hasil PPG maksimal. - Berapa kuota internet yang dibutuhkan per bulan?
Berdasarkan pengalaman, siapkan minimal 50-70 GB per bulan. Video conference Zoom setiap hari memakan kuota besar. Disarankan pasang WiFi agar lebih hemat dan stabil. - Bagaimana jika laptop saya spesifikasinya rendah?
Masih bisa, asalkan kuat membuka browser (LMS), aplikasi office, dan Zoom. Untuk tugas edit video PPL yang berat, Anda bisa mengakalinya dengan mengedit di HP menggunakan aplikasi ringan. - Apakah ada ujian tertulis saat PPG berlangsung?
Ada. Selain Uji Pengetahuan (UP) di akhir program, selama proses perkuliahan juga ada pretest dan posttest setiap modul untuk mengukur pemahaman materi harian Anda.
Share this content:







