Cara Membuat Kerangka Teori Skripsi dengan ChatGPT Valid!

Last Updated on 22 November 2025 by Suryo Hadi Kusumo

membuat kerangka teori skripsi dengan ChatGPT

Halo teman-teman mahasiswa pejuang toga! Apa kabar tumpukan buku di kamar kos? Masih rapi berdebu atau sudah mulai dibaca? Saya tahu betul, masuk ke Bab 2 alias Tinjauan Pustaka itu rasanya seperti masuk ke hutan belantara tanpa kompas. Kalian diminta mencari teori, menyusun kerangka berpikir, tapi bingung mulainya dari mana. Banyak mahasiswa saya yang curhat, “Pak, saya tahu variabelnya, tapi bingung cari grand theory-nya.” Nah, di sinilah teknologi bisa menjadi “asisten” kalian. Hari ini, kita akan bedah tuntas strategi membuat kerangka teori skripsi dengan ChatGPT agar Bab 2 kalian tidak cuma tebal, tapi juga “berisi”.

Tapi ingat ya, AI itu alat bantu, bukan joki. Filosofi penggunaannya harus benar dulu. Sebelum kita masuk ke teknik *prompting* yang detail, saya sangat menyarankan kalian membaca pondasi dasarnya di artikel rahasia menggunakan AI untuk pendidikan. Kalau pondasinya kuat, mau pakai tools secanggih apa pun, skripsi kalian akan tetap aman dan beretika.

Apa Itu Kerangka Teori dan Kenapa Sering Bikin Pusing?

Ibarat membangun rumah, Bab 1 itu desain awalnya (mau bikin rumah apa), dan Bab 2 (Kerangka Teori) adalah fondasi dan tiang pancangnya. Kalau kerangka teorinya rapuh, analisis kalian di Bab 4 nanti bakal goyang.

Inti dari membuat kerangka teori skripsi dengan ChatGPT adalah meminta AI untuk membantu kita memetakan hierarki teori. Dalam dunia akademik, kita mengenal tiga tingkatan teori:

  • Grand Theory: Teori payung besar (Induk).
  • Middle Range Theory: Teori penghubung.
  • Applied Theory: Teori teknis yang langsung bersentuhan dengan variabel kalian (Indikator).

ChatGPT, yang pada dasarnya adalah Large Language Model, sudah “membaca” jutaan buku teks dan jurnal. Kita bisa memanfaatkannya untuk menemukan teori yang paling relevan dengan variabel kita.

PROMO HARI INI Kamera CCTV Mini Wifi

Kamera Pengintai Mini Wifi (Pantau Lewat HP)

Tanpa kabel, baterai awet, instalasi mudah & tersembunyi.

Ambil Voucher Diskon →

Langkah 1: Identifikasi Variabel dan Minta Struktur Hierarki

Jangan langsung minta “Buatkan Bab 2”. Itu kesalahan fatal. Hasilnya pasti *ngalor-ngidul*. Langkah pertama yang cerdas adalah menyodorkan variabel kalian dan minta struktur.

Contoh Prompt:
“Saya mahasiswa tingkat akhir jurusan Manajemen Pemasaran. Judul skripsi saya adalah ‘Pengaruh Social Media Marketing dan Brand Awareness terhadap Keputusan Pembelian Gen Z’. Bantu saya menyusun outline Kerangka Teori yang ideal. Sarankan Grand Theory, Middle Range Theory, dan Applied Theory yang relevan untuk variabel-variabel tersebut.”

Dengan prompt ini, ChatGPT akan memberikan peta jalan. “Oh, untuk keputusan pembelian, kamu bisa pakai Grand Theory *Consumer Behavior* dari Kotler & Keller.” Nah, kalian jadi punya arah, kan? Untuk detail teknis prompting lainnya, kalian bisa intip panduan cara menggunakan ChatGPT 4 untuk skripsi yang sudah saya bahas sebelumnya.

⚠️
Penting! (Warning dari Dosen)
ChatGPT versi gratis sering mengalami hallucination (halusinasi). Ia bisa mengarang nama teori atau tahun terbit buku yang sebenarnya TIDAK ADA. Jadi, gunakan jawaban ChatGPT hanya sebagai petunjuk kata kunci. Setelah dapat nama teorinya, WAJIB cari buku aslinya atau e-book resminya untuk dikutip. Jangan mengutip “Sumber: ChatGPT”. Itu haram hukumnya di sidang skripsi.

Langkah 2: Mengembangkan Definisi dan Indikator

Setelah tahu nama teorinya, langkah selanjutnya dalam membuat kerangka teori skripsi dengan ChatGPT adalah mencari definisi dan indikator. Indikator ini penting karena akan jadi bahan pertanyaan kuesioner kalian nanti.

Prompt Lanjutan:
“Berdasarkan teori Philip Kotler, sebutkan indikator-indikator untuk mengukur variabel ‘Keputusan Pembelian’. Jelaskan juga definisi operasionalnya secara ringkas.”

Hasilnya biasanya berupa poin-poin. Tugas kalian adalah memvalidasi poin tersebut dengan buku teks. Apakah benar Kotler bilang begitu? Atau itu pendapat ahli lain? Di sinilah kemampuan literasi kalian diuji. Jangan terima mentah-mentah.

Jujur saja, ChatGPT kadang bahasanya terlalu kaku dan “robot banget”. Kalau kalian butuh AI yang gaya bahasanya lebih luwes, logis, dan lebih jago merangkum teks akademis yang rumit, saya pribadi lebih menyarankan tools ini:
Claude Ai Pro (Lebih Canggih & Manusiawi)

Langkah 3: Menyusun Penelitian Terdahulu (State of The Art)

Bagian ini sering bikin mata pedih karena harus baca puluhan jurnal. Kalian bisa minta bantuan AI untuk merangkum, tapi hati-hati. Jangan minta AI mencarikan jurnal (karena sering link-nya palsu), tapi minta AI untuk menganalisis abstrak jurnal yang sudah kalian temukan.

Caranya: Copy abstrak dari jurnal asli, lalu paste ke ChatGPT dengan perintah:
“Rangkum abstrak berikut menjadi satu paragraf yang berisi: Tujuan, Metode, Hasil, dan Kesimpulan. Gunakan bahasa akademis bahasa Indonesia yang baku.”

Ini akan mempercepat kerja kalian 10x lipat. Masih ragu soal etika akademik? Ada diskusi menarik tentang kelayakan penggunaan AI dalam penulisan akademis yang bisa membuka wawasan kalian bahwa menggunakan AI untuk merangkum itu sah-sah saja, asalkan bukan untuk menulis opini tanpa dasar.

Langkah 4: Sintesis dan Kerangka Berpikir (Bagan)

Puncak dari Bab 2 adalah Kerangka Berpikir. Ini adalah alur logika kalian. Bagaimana variabel X mempengaruhi Y. Kalian bisa berdiskusi dengan AI untuk menajamkan argumen ini.

Prompt Diskusi:
“Saya ingin membangun argumen bahwa Social Media Marketing berpengaruh positif terhadap Brand Awareness. Berikan saya 3 alasan logis berdasarkan teori komunikasi pemasaran yang bisa mendukung hipotesis ini.”

Jawaban AI akan memberikan kalian “bahan argumen”. Tugas kalian adalah menjahit argumen tersebut dengan kalimat kalian sendiri (parafrase). Ingat, dosen bisa mencium bau copy-paste dari jauh. Tulisan yang murni copas biasanya tidak punya “ruh” atau alur yang enak dibaca.

Langkah 5: Cek Plagiasi dan Kualitas Tulisan

Setelah kerangka teori jadi, jangan langsung lega. Masalah terbesar Bab 2 adalah tingkat plagiasi (similarity index) yang biasanya tinggi karena banyak definisi. Kalian harus melakukan parafrase.

Trik saya: Baca satu paragraf dari AI atau buku, tutup layarnya, lalu tulis ulang dengan bahasa kalian sendiri. Kalau masih mentok, kalian bisa pakai teknik yang saya tulis di artikel tentang tools AI lainnya yang bisa membantu produktivitas.

Daripada jantungan H-1 sidang karena skripsi ditolak akibat plagiasi tinggi, mending cek dari sekarang. Bab 2 itu “sarang”-nya plagiasi karena banyak kutipan. Gunakan akun Turnitin yang aman (No Repository) dan murah ini:
Cek Turnitin Harian (Aman & Cepat)

Sekalian kalau butuh slide presentasi sidang nanti biar tidak begadang:
Slider AI + Chat GPT (Auto Presentasi)

Kesimpulan: Jadilah “Mandor”, Bukan “Kuli”

Dalam proses membuat kerangka teori skripsi dengan ChatGPT, posisikan diri kalian sebagai Mandor yang cerdas. Kalian yang pegang kendali, kalian yang validasi, dan kalian yang menentukan arah. ChatGPT hanyalah kuli yang membantu mengangkut bahan material (teori dan referensi).

Jangan biarkan kuli yang mendesain rumahnya. Kalau kalian serahkan 100% ke AI, rumah (skripsi) kalian mungkin terlihat bagus dari jauh, tapi akan rubuh saat “digempa” (diuji) oleh dosen penguji.

Gunakan teknologi untuk mempercepat proses, bukan untuk memintas proses belajar. Semangat mengerjakan Bab 2, teman-teman! Percayalah, setelah Bab 2 selesai, jalan menuju wisuda akan terasa jauh lebih terang.

Share this content:

Visited 14 times, 1 visit(s) today

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *