7 Fakta Analisis Kenapa Banyak yang Gagal PPG dan Strategi Lulus UP (Terbongkar)
Last Updated on 23 December 2025 by Suryo Hadi Kusumo

Kenapa Banyak yang Gagal PPG? Penyebab utamanya bukanlah kurangnya durasi belajar, melainkan ketidaksiapan peserta menghadapi Uji Pengetahuan (UP) yang berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS). Banyak peserta terjebak menghafal teori, padahal ujian menuntut kemampuan analisis kasus (Pedagogical Content Knowledge) serta manajemen tekanan mental akibat kelelahan ganda mengajar dan kuliah.
Analisis Kritis Kenapa Banyak yang Gagal PPG di Tahap Uji Pengetahuan (UP)?
Apakah Anda merasa sudah membaca modul beratus-ratus halaman, mengerjakan tugas LMS (Learning Management System) tanpa henti, namun saat melihat pengumuman hasil ujian, nama Anda tidak tercantum di daftar kelulusan? Percayalah, Anda tidak sendirian. Sebagai praktisi pendidikan yang telah mendampingi banyak rekan guru melewati masa-masa kritis ini, saya melihat pola yang berulang. Rasa sakitnya bukan hanya karena gagal mendapatkan sertifikat pendidik, tetapi rasa bingung: “Saya salah di mana?”
Faktanya, fenomena kenapa banyak yang gagal PPG (Pendidikan Profesi Guru) ini sering kali bukan disebabkan oleh rendahnya intelektualitas seorang guru. Saya berani menjamin, banyak guru yang tidak lulus ujian ini adalah praktisi hebat di dalam kelas. Namun, ujian terstandarisasi seperti UKMPPG memiliki “bahasa” dan logikanya sendiri yang sering kali bertolak belakang dengan intuisi kita sehari-hari di sekolah. Oleh karena itu, kita perlu berhenti menyalahkan diri sendiri dan mulai membedah sistem ini dengan kepala dingin. Melalui data dari kemdikbud.go.id, kita bisa melihat bahwa evaluasi kompetensi ini memang dirancang untuk menyaring secara ketat, namun bukan berarti tidak bisa ditaklukan. Mari kita bedah “penyakit” utamanya agar Anda tidak jatuh di lubang yang sama.
Realitas Pahit Statistik Membaca Data di Balik Angka Kelulusan
Saya ingin berbicara jujur kepada Anda tanpa gula-gula motivasi. Angka kelulusan PPG, terutama pada tahap akhir, sering kali mengalami fluktuasi yang drastis. Ada gelombang di mana tingkat kelulusannya cukup tinggi, namun ada masa di mana grafiknya terjun bebas, meninggalkan ribuan guru dalam status retaker (pengulang ujian).
Di lapangan, saya sering menemui kasus di mana satu angkatan di sebuah LPTK (Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan) bisa lulus 80% pada Uji Kinerja, namun rontok hingga tersisa 50% saja saat pengumuman Uji Pengetahuan. Mengapa ketimpangan ini terjadi?
Alasannya sederhana namun fatal: Kita sering meremehkan statistik. Banyak guru merasa bahwa “Ah, saya sudah mengajar 10 tahun, pasti bisa menjawab soal tentang cara mengajar.” Padahal, pengalaman empiris di lapangan sering kali berbeda dengan “kunci jawaban ideal” yang diinginkan oleh pembuat soal pusat. Pertanyaan tentang kenapa banyak yang gagal PPG sebenarnya bisa dijawab dengan satu kalimat: Terlalu percaya diri pada pengalaman, namun lemah pada analisis teori. Statistik tidak berbohong, mayoritas kegagalan terjadi karena peserta menjawab menggunakan “kebiasaan”, bukan menggunakan “landasan pedagogik”.
Coba simak video ini mengapa banyak guru yang gagal lulus PPG..
Titik Kritis Dimana Mayoritas Peserta Berguguran
Jika kita ibaratkan PPG ini sebagai sebuah maraton, banyak peserta yang “tewas” justru di kilometer terakhir. Dalam struktur penilaian UKMPPG (Uji Kompetensi Mahasiswa PPG), ada dua gerbang utama: Uji Kinerja (Ukin) dan Uji Pengetahuan (UP).
Berdasarkan pengamatan saya selama bertahun-tahun, Uji Kinerja jarang menjadi batu sandungan utama. Mengapa? Karena Ukin adalah “makanan sehari-hari” kita. Anda diminta membuat video pembelajaran, menyusun perangkat ajar, dan dinilai oleh dosen serta guru pamong. Selama Anda mengikuti prosedur, nilai aman sudah di tangan.
Namun, cerita berubah horor saat masuk ke Uji Pengetahuan (UP). Inilah “pembunuh berdarah dingin” yang sebenarnya. UP menggunakan sistem Computer Based Test (CBT) yang terpusat, objektif, dan tanpa ampun. Tidak ada dosen yang bisa membantu mendongkrak nilai Anda di sini. Ketika skor Anda 69, sedangkan ambang batasnya 70, maka Anda gagal. Titik. Inilah alasan teknis terbesar kenapa banyak yang gagal PPG: ketidakmampuan menaklukan algoritma dan logika soal UP.
⚠️ Penting! Jangan habiskan 80% energi Anda untuk memoles video Ukin yang sudah “cukup baik”. Alihkan fokus energi Anda untuk melatih logika menjawab soal UP, karena di sinilah leher botol (bottleneck) kelulusan yang sebenarnya berada.
Bedah Anatomi Soal UP Jebakan HOTS yang Mematikan
Mari kita masuk ke bagian teknis yang paling sering diabaikan. Saya sering mendengar keluhan, “Soalnya panjang-panjang, waktunya habis cuma buat baca!” atau “Jawabannya mirip semua, bikin pusing!”.
Jika Anda merasakan hal tersebut, artinya Anda sedang berhadapan dengan soal bertipe HOTS (Higher Order Thinking Skills). Kesalahan fatal pemula adalah belajar dengan cara menghafal definisi. Di zaman sekarang, soal tipe C1 (Mengingat) atau C2 (Memahami) itu jumlahnya sangat sedikit.
Saya berikan gambaran konkret. Soal tidak akan bertanya: “Apa definisi Teori Konstruktivisme?” Sebaliknya, soal akan menyajikan kasus: “Pak Budi mengajar di kelas yang siswanya pasif. Ia ingin menerapkan model pembelajaran yang membuat siswa menemukan sendiri konsep materi. Langkah awal yang paling tepat dilakukan Pak Budi berdasarkan teori Konstruktivisme adalah…”
Lihat bedanya? Anda dipaksa menganalisis situasi, memilih solusi, dan mencocokkannya dengan teori.
- Jebakan Distraktor: Pilihan jawaban A, B, C, D, dan E sering kali semuanya “benar” secara logika umum. Namun, hanya satu yang “paling benar” menurut kaidah pedagogik atau profesional yang ditanyakan.
- Miskonsepsi PCK: Banyak yang gagal membedakan antara Content Knowledge (penguasaan materi) dengan Pedagogical Content Knowledge (cara mengajarkan materi tersebut). Soal sering menjebak guru untuk menjawab secara materi, padahal yang ditanya adalah strategi mengajarnya.
Ketidakmampuan membedah anatomi soal inilah yang menjadi jawaban inti kenapa banyak yang gagal PPG, meskipun mereka sudah membaca rangkuman materi berkali-kali.
Faktor Invisible Kelelahan Kognitif dan Burnout
Ini adalah faktor non-teknis yang jarang dibahas di seminar-seminar, tapi bagi saya, ini sangat krusial. Terutama bagi Anda peserta PPG Dalam Jabatan (Daljab).
Saya sangat paham posisi Anda. Pagi sampai siang harus mengajar di sekolah (sering kali dengan jam penuh karena kekurangan guru), sorenya harus mengurus administrasi sekolah, dan malamnya baru bisa membuka LMS atau Zoom meeting untuk PPG. Siklus ini berjalan berbulan-bulan.
Otak manusia memiliki batas kapasitas kognitif. Saat Anda memaksakan belajar untuk UP dalam kondisi otak yang sudah “tergoreng” oleh aktivitas harian, informasi tidak akan tersimpan di memori jangka panjang.
- Efek di Ruang Ujian: Saat membaca soal cerita yang panjang, konsentrasi buyar. Anda harus membaca satu soal berulang-ulang sampai 3 kali baru paham maksudnya. Ini membuang waktu.
- Keputusan Impulsif: Karena lelah, Anda cenderung memilih jawaban yang “terlihat benar” tanpa analisis mendalam, hanya agar bisa cepat pindah ke soal berikutnya.
Kelelahan kronis atau burnout ini adalah musuh dalam selimut yang berkontribusi besar terhadap kenapa banyak yang gagal PPG. Anda kalah sebelum bertanding karena energi mental Anda sudah habis duluan.
Kesalahan Strategis Saat Belajar Mandiri Tryout yang Menyesatkan
Salah satu penyebab kenapa banyak yang gagal PPG adalah jebakan “rasa aman palsu”. Saya sering menemui peserta yang dengan bangga mengatakan, “Pak, saya sudah ikut 10 kali tryout di grup Telegram dan nilainya selalu di atas 80!” Namun, saat ujian asli, nilainya anjlok di bawah 50.
Mengapa anomali ini terjadi? Masalahnya ada pada kualitas soal tryout. Di lapangan, banyak beredar soal-soal tryout gratisan atau berbayar murah yang ternyata hanya kumpulan soal-soal lama (LOTS/Low Order Thinking Skills) yang sudah kadaluwarsa. Anda berlatih menghafal kunci jawaban, bukan melatih logika analisis.
Ketika Anda terbiasa mengerjakan soal yang mudah, otak Anda menjadi “malas” berpikir kompleks. Begitu dihadapkan pada soal UP asli yang panjang dan berbelit, Anda kaget mental (shock). Saran saya sangat tegas: Berhenti membuang waktu mengerjakan ribuan soal sampah. Lebih baik kerjakan 50 soal HOTS yang berkualitas dan bedah satu per satu alasannya, daripada 500 soal mudah yang hanya membuat Anda merasa pintar sementara.
Standar Passing Grade dan Mekanisme Penilaian yang Sering Disalahpahami
Banyak rumor beredar bahwa kelulusan PPG ditentukan oleh kuota. “Ah, pasti yang diluluskan cuma sekian persen dari pusat.” Ini adalah mitos berbahaya yang harus Anda buang jauh-jauh.
Sistem penilaian UP PPG menggunakan Criterion-Referenced Evaluation (Penilaian Acuan Patokan), bukan norma. Artinya, kelulusan Anda tidak tergantung pada seberapa pintar teman di sebelah Anda, tetapi murni apakah nilai Anda menembus ambang batas (Passing Grade) atau tidak.
Ambang Batas Nilai yang Menjadi Momok Peserta
Secara umum, ambang batas kelulusan UP adalah 70 (skala 0-100). Terdengar rendah? Jangan salah. Dalam ujian berbasis kompetensi, mendapatkan nilai 70 itu sangat sulit karena setiap opsi jawaban dirancang mengecoh.
Pemahaman yang salah tentang mekanisme inilah yang menjawab kenapa banyak yang gagal PPG. Peserta sering kali “menembak” jawaban tanpa strategi, berharap keberuntungan. Padahal, selisih satu poin saja (misal nilai Anda 69), sistem otomatis menyatakan Tidak Lulus. Tidak ada negosiasi, tidak ada “kerek nilai”. Objektivitas inilah yang sering dianggap kejam, padahal ini adalah standar profesionalisme.
Langkah Strategis Menaklukan Soal UP PPG (Metode Bedah Soal)
Agar Anda tidak menjadi bagian dari statistik kegagalan, saya akan bagikan metode teknis yang biasa saya ajarkan kepada rekan-rekan guru untuk membedah soal UP. Ikuti langkah ini saat belajar mandiri:
- Identifikasi Kata Kunci Kasus (The Keyword Hunter) Jangan baca soal dari awal sampai akhir seperti membaca koran. Langsung cari kalimat pertanyaan di bagian akhir (biasanya kalimat terakhir). Setelah tahu apa yang ditanya (misal: “Langkah evaluasi yang tepat”), baru baca kasus di atasnya. Cari kata kunci spesifik: Siswa ribut, Nilai rendah, Materi abstrak. Ini akan menghemat waktu Anda 50%.
- Eliminasi Jawaban “Absurd” Dari 5 opsi (A-E), biasanya ada 2 jawaban yang pasti salah atau tidak nyambung dengan teori. Coret segera opsi ini di pikiran Anda (misal: menghukum siswa secara fisik, atau membiarkan siswa belajar sendiri tanpa panduan). Fokuslah hanya pada 3 opsi tersisa.
- Cek Keterkaitan Teori dan Kata Kerja Operasional Jika soal menanyakan tentang “Pembelajaran Abad 21”, maka jawaban yang mengandung metode ceramah satu arah pasti salah. Cari jawaban yang mengandung unsur 4C (Critical Thinking, Collaboration, Communication, Creativity). Kunci dari menjawab pertanyaan kenapa banyak yang gagal PPG sering kali karena peserta gagal menghubungkan Masalah di Soal dengan Solusi di Opsi Jawaban secara teoritis.
Protokol Penyelamatan Langkah Taktis Jika Anda Termasuk yang “Belum Beruntung”
Bagaimana jika takdir berkata lain dan Anda dinyatakan belum lulus? Apakah dunia kiamat? Tentu tidak.
Memahami Hak dan Prosedur Ujian Ulang (Retaker)
Kabar baiknya, pemerintah memberikan kesempatan bagi peserta yang gagal untuk menjadi Retaker. Anda tidak perlu mengulang kuliah PPG dari awal selama periode masa studi Anda masih berlaku (biasanya 3 tahun).
Namun, jangan menjadi “Retaker Abadi”. Saya pernah bertemu guru yang sudah mengulang ujian hingga 6 kali tetap gagal. Masalahnya bukan pada soalnya, tapi dia tidak mengubah cara belajarnya. Jika Anda gagal, segera lakukan evaluasi total. Cek di modul mana nilai Anda paling rendah (Pedagogik atau Profesional?), lalu serang titik lemah tersebut. Ingat, kenapa banyak yang gagal PPG berulang kali adalah karena mereka melakukan hal yang sama tapi mengharapkan hasil yang berbeda.
📢 Rekomendasi Alat Pendukung Guru Profesional:
Di era digital, persiapan materi ajar dan tugas kuliah PPG akan sangat menguras waktu jika dikerjakan manual. Berikut alat tempur yang saya sarankan untuk efisiensi:
- Slider AI + Chat GPT Premium: Jangan habiskan waktu berjam-jam membuat presentasi atau merangkum modul tebal. Gunakan AI untuk membantu Anda merangkum materi sulit menjadi slide visual yang mudah diingat untuk belajar.Cek Alatnya di sini
- Turnitin (Cek Plagiasi): Saat menyusun tugas akhir atau portofolio studi kasus, orisinalitas adalah harga mati. Pastikan karya tulis Anda bebas plagiasi sebelum diunggah ke sistem agar tidak didiskualifikasi.Akses Turnitin Murah
Mengubah Mindset dari Menghafal Menjadi Menganalisis
Sebagai penutup diskusi kita tentang kenapa banyak yang gagal PPG, saya ingin menekankan satu hal: Sertifikasi guru bukan sekadar soal tambahan gaji. Ini adalah validasi bahwa Anda adalah profesional yang kompeten.
Kegagalan di UP PPG adalah “tamparan” yang menyadarkan kita bahwa mungkin selama ini kita terlalu nyaman dengan rutinitas mengajar yang monoton. Jadikan proses ini sebagai titik balik. Ubah mindset Anda dari “Si Penghafal” menjadi “Si Penganalisis”. Percayalah, ketika Anda paham konsepnya, soal sekompleks apa pun akan terlihat polanya.
Tetap semangat, Bapak/Ibu Guru hebat. Perjuangan Anda di ruang kelas nyata jauh lebih berat dari ujian ini, jadi saya yakin Anda pasti bisa menaklukannya. Sampai jumpa di daftar kelulusan periode depan!
FAQ (Pertanyaan Umum)
1. Apakah nilai Uji Kinerja (Ukin) bisa membantu menambal nilai Uji Pengetahuan (UP) yang kurang? Tidak bisa. Kedua ujian ini berdiri sendiri. Anda wajib lulus di keduanya. Nilai Ukin yang sempurna (100) tidak akan meluluskan Anda jika nilai UP Anda masih di bawah ambang batas (Passing Grade).
2. Berapa kali kesempatan yang diberikan untuk menjadi Retaker PPG? Kesempatan retaker diberikan selama masa studi Anda masih aktif, biasanya hingga 3 tahun atau setara dengan 6 kali periode ujian. Namun, regulasi bisa berubah sewaktu-waktu, jadi pastikan lulus secepat mungkin.
3. Kenapa banyak yang gagal PPG padahal sudah ikut bimbingan belajar mahal? Bimbel hanya memfasilitasi, bukan menjamin. Banyak peserta bimbel pasif (hanya mendengar) dan tidak melatih logika analisis sendiri. Selain itu, faktor mental (kepanikan saat ujian) sering kali menjadi faktor yang tidak bisa diatasi oleh bimbel manapun.
Share this content:








