Bagaimana Membuat Metodologi Penelitian Skripsi? Anti ‘Dirujak’ Dosen

bagaimana membuat metodologi penelitian

Halo rekan-rekan mahasiswa pejuang skripsi! Kembali lagi bersama saya di sini. Kalau kalian sudah sampai di artikel ini, saya asumsikan Bab 1 kalian (Pendahuluan) sudah aman, atau setidaknya sudah ada bayangan. Nah, sekarang kita masuk ke “jantung” teknis dari skripsi kalian: Bab 3. Banyak mahasiswa yang bertanya ke saya, “Pak, sebenarnya bagaimana membuat metodologi penelitian yang benar? Kok rasanya ribet banget istilah-istilahnya?”

Jujur saja, sebagai dosen, saya sering melihat mahasiswa yang Bab 1-nya bagus, latar belakang masalahnya tajam, tapi “gugur” saat sidang proposal hanya karena metodologinya berantakan. Mereka bingung mau pakai pisau apa untuk membedah masalahnya. Padahal, kalau kalian paham logikanya, Bab 3 itu adalah bab paling mudah karena sifatnya teknis dan prosedural. Sebelum kita bedah satu per satu, pastikan kalian sudah membaca peta jalan besarnya di panduan lengkap skripsi cepat lulus agar kalian tidak tersesat di tengah jalan.

Apa Itu Metodologi Penelitian? (Analogi Masak)

Supaya tidak pusing dengan bahasa buku yang njelimet, mari kita pakai analogi sederhana. Jika Bab 1 adalah alasan “KENAPA” kalian mau masak Nasi Goreng (karena lapar, karena enak), maka Bab 3 (Metodologi) adalah “RESEP”-nya.

Metodologi berisi bahan apa yang dipakai (Data), beli bahannya di mana (Lokasi/Populasi), pakai alat apa masaknya (Instrumen), dan bagaimana cara mengolahnya (Analisis). Jadi, inti dari bagaimana membuat metodologi penelitian adalah menuliskan resep yang sistematis. Tujuannya apa? Supaya kalau ada orang lain yang mau meneliti hal yang sama dengan cara kalian, hasilnya akan sama. Itu namanya reproducible.

Secara akademis, Skripsi menuntut metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan. Jangan sampai kalian mau bikin Nasi Goreng, tapi alat yang disiapkan malah Mixer Roti. Gak nyambung, kan?

Langkah 1: Tentukan Pendekatan (Kualitatif, Kuantitatif, atau Mix?)

Ini adalah gerbang utamanya. Kalian harus tegas di sini. Jangan sampai di tengah jalan kalian bilang “Kuantitatif” tapi datanya wawancara curhat tanpa angka.

PROMO HARI INI Kamera CCTV Mini Wifi

Kamera Pengintai Mini Wifi (Pantau Lewat HP)

Tanpa kabel, baterai awet, instalasi mudah & tersembunyi.

Ambil Voucher Diskon →
  • Kuantitatif: Main angka, statistik, kuesioner, menguji hipotesis. Cocok buat kalian yang suka kepastian dan alergi basa-basi.
  • Kualitatif: Main kata-kata, wawancara mendalam, observasi, membedah makna. Cocok buat kalian yang kritis dan suka menggali fenomena unik.
  • Mixed Method: Gabungan keduanya. (Saran saya untuk S1, pilih salah satu saja supaya cepat lulus, kecuali kalian sangat ambisius).
⚠️
Penting! Kesalahan fatal mahasiswa adalah memilih metode dulu, baru mencari masalah. “Saya pokoknya mau Kualitatif ah, biar gak ngitung.” Itu SALAH BESAR. Metode itu mengikuti masalah, bukan sebaliknya. Jika masalahnya butuh pembuktian pengaruh (sebab-akibat) massal, ya harus Kuantitatif.

Langkah 2: Desain dan Lokasi Penelitian

Setelah tahu pendekatannya, jelaskan desainnya. Kalau kuantitatif, apakah kalian pakai Eksperimen? Atau Survei (Ex Post Facto)? Kalau kualitatif, apakah Studi Kasus? Etnografi? Atau Fenomenologi?

Lalu, tentukan lokasi dan waktu. Ini sering dianggap remeh, padahal dosen penguji sering tanya: “Kenapa harus di PT. Mencari Cinta Sejati? Kenapa gak di perusahaan lain?”. Siapkan argumen yang kuat, misalnya karena perusahaan tersebut memiliki anomali data yang menarik untuk diteliti.

Langkah 3: Populasi dan Sampel (Siapa yang Diteliti?)

Ini bagian yang sering bikin mahasiswa “kena mental” saat ditanya dosen. Kalian harus paham bedanya Populasi (keseluruhan subjek) dan Sampel (sebagian yang mewakili).

Teknik Sampling

Kalau kalian pakai Kualitatif, biasanya pakai Purposive Sampling (memilih narasumber yang paling tahu masalah). Kalau Kuantitatif, bisa pakai Random Sampling atau rumus Slovin untuk menentukan jumlah responden.

Bingung menentukan kriteria sampel atau menyusun kisi-kisi pertanyaan wawancara? Di era sekarang, kalian bisa memanfaatkan teknologi. Saya pernah membahas cara menggunakan ChatGPT 4 untuk skripsi untuk membantu brainstorming kriteria sampel. Tapi ingat, AI hanya membantu ide, keputusan tetap di tangan kalian sebagai peneliti.

Jujur, kadang AI standar suka “halusinasi” kalau ditanya soal logika metodologi yang rumit. Untuk teman diskusi merancang instrumen penelitian yang lebih logis dan akademis, saya sarankan coba tools ini:
Claude Ai (Logikanya Lebih Tajam dari ChatGPT)

Langkah 4: Instrumen Penelitian dan Pengumpulan Data

Dalam menjawab bagaimana membuat metodologi penelitian, instrumen adalah “senjata” kalian.

  • Kuesioner (Angket): Pastikan pertanyaannya valid dan reliabel. Jangan bikin pertanyaan yang membingungkan responden.
  • Wawancara (Interview): Siapkan pedoman wawancara. Jangan datang kosong.
  • Dokumentasi: Foto, laporan keuangan, arsip, dll.

Satu tips dari saya: Sebelum sebar kuesioner ke 100 orang, coba tes dulu ke 10-20 orang (Uji Coba Instrumen). Kalau hasilnya kacau, perbaiki dulu. Jangan sampai data masuk sampah, hasil olahan juga sampah (Garbage In, Garbage Out).

Langkah 5: Teknik Analisis Data

Nah, ini bagian pamungkas. Data yang sudah terkumpul mau diapakan?

  • Untuk Kuantitatif: Sebutkan alat analisisnya. Apakah pakai SPSS? PLS-SEM? Eviews? Jelaskan uji apa saja yang dilakukan (Uji Normalitas, Uji Hipotesis, dll).
  • Untuk Kualitatif: Jelaskan bagaimana kalian mereduksi data. Biasanya pakai metode Miles & Huberman (Reduksi data, Penyajian data, Penarikan kesimpulan). Atau kalau mau keren dikit pakai NVivo.

Banyak mahasiswa takut dibilang “curang” kalau pakai tools. Padahal tidak. Ada diskusi menarik tentang kelayakan penggunaan AI dalam akademis yang bisa membuka wawasan kalian bahwa tools itu sah selama kalian paham konsep dasarnya.

Kesalahan Umum Saat Menyusun Metodologi

Selama saya menguji sidang, ada beberapa pola kesalahan yang berulang:

  1. Copy-Paste Punya Kakak Tingkat: Ini paling parah. Skripsi kakak tingkat itu belum tentu benar 100%. Kalau kalian copas kesalahannya, kalian mewarisi dosa akademis.
  2. Tidak Sinkron dengan Judul: Judulnya “Pengaruh” (Kuantitatif), tapi metodenya “Wawancara Mendalam” (Kualitatif). Jaka sembung bawa golok.
  3. Definisi Operasional Mengambang: Variabel tidak didefinisikan secara terukur. Misal, variabel “Kinerja”, kinerjanya diukur pakai apa? Absensi? Atau target penjualan?

Untuk menghindari masalah plagiasi—karena Bab 3 ini isinya teori yang sering mirip dengan skripsi orang lain—kalian wajib melakukan parafrase. Jangan sampai Turnitin kalian merah menyala.

Bab 3 itu rawan banget kena plagiasi tinggi karena banyak definisi teoritis. Daripada jantungan pas mau daftar sidang, mending cek berkala tulisan kalian pakai akun Turnitin yang reliable dan murah ini:
Cek Turnitin Harian (No Repository – Aman!)

Dan kalau nanti sidang butuh kuis interaktif biar dosen pengujinya terkesan (atau buat kalian calon guru/dosen):
Akun Kahoot Premium 1 Bulan

Tips Menghadapi Dosen Saat Konsultasi Bab 3

Metodologi adalah bab pertanggungjawaban. Dosen akan mengejar “Kenapa” kalian memilih metode A dibanding B. Tipsnya: Jangan defensif. Kalau dosen memberi masukan, dengarkan. Mereka lebih paham medan. Kalian bisa baca artikel saya tentang fakta menjadi dosen untuk mengerti sudut pandang kami. Kami bertanya bukan untuk menjatuhkan, tapi memastikan kalian tidak kesulitan saat ambil data di lapangan nanti.

Kesimpulan

Menjawab bagaimana membuat metodologi penelitian sebenarnya adalah menjawab pertanyaan: “Bagaimana cara saya memecahkan masalah ini secara ilmiah?”. Jika kalian bisa menjelaskan alurnya dari A sampai Z dengan logis, Bab 3 akan jadi bab yang paling cepat selesai.

Ingat, skripsi yang baik bukan yang metodenya paling rumit, tapi yang metodenya paling TEPAT menjawab masalah. Jangan persulit diri sendiri. Kerjakan sedikit demi sedikit, konsultasikan, revisi, dan lanjut lagi. Kalian pasti bisa wisuda tahun ini!

Share this content:

Visited 5 times, 1 visit(s) today

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *